Mengenal Teknologi Ride by Wire pada Sepeda Motor

Oleh Dias Mahendra | 09/01/2016
Mengenal Teknologi Ride by Wire pada Sepeda Motor

Teknologi Motor Terbaru, Zaman kini semakin canggih, begitu pula dengan dunia otomotif. Semakin lama semakin banyak merek mobil maupun motor yang menyertakan teknologi terkini ke dalam produk andalannya. Tidak hanya bertujuan untuk keamanan saja, teknologi canggih yang dibenamkan pada kendaraan juga bertujuan untuk menunjang performa. Pada kendaraan roda dua, mungkin banyak yang pernah mendengar teknologi ride by wire atau throttle by wire.

Dilansir dari laman Gizmag, Yamaha YZF-R6 merupakan motor produksi massal pertama yang mengusung teknologi ini. Setelah hadirnya motor sport ini, beberapa merek ternama seperti Honda, Ducati dan KTM juga menghadirkan teknologi tersebut pada motor-motor kelas atasnya.

Pada motor-motor konvensional pengendalian bukaan gas atau throttle dilakukan oleh kabel baja pilin yang menghubungkan grip gas dengan klep kupu-kupu (throttle butterfly) atau karburator pada mesin karburator.

Apabila pengendara mendadak membuka gas lebar-lebar, biasanya mesin akan mati (stall). Hal ini dikarenakan mesin mendapat aliran udara besar secara mendadak. Kejadian semacam ini lazim terjadi pada motor bermesin dua silinder.

Namun lain halnya jika motor sudah menggunakan teknologi ride by wire. Gejala matinya mesin lantaran bukaan gas mendadak dapat dihilangkan. Sebab tidak ada lagi kabel baja pilin yang menghubungkan grip gas dengan klep kupu-kupu.

Yamaha YZF-R6 2016

Fungsi kabel baja pilin ini digantikan dengan sinyal elektronik yang dikirimkan oleh sebuah transponder kepada unit kontrol elektronik (ECU) mesin saat pengendara memutar grip gas. Alhasil, meski pengendara membuka gas besar secara mendadak, klep kupu-kupu tidak akan langsung terbuka lebar, karena bukaannnya diatur oleh ECU.

Pemakaian teknologi ride by wire pada sepeda motor akan membuat akselerasinya lebih stabil. Di samping itu konsumsi bahan bakar juga menjadi lebih efisien. Di samping itu beberapa teknologi anjutan seperti kontrol traksi, cruise control dan variable power modes dapat diterapkan.

Akan tetapi bukan berarti teknologi ini tidak memiliki kekurangan. Menurut pemaparan tmcBlog dan BikesIndia, teknologi ini dapat membuat hilangnya rasa mengendara lantaran peranti komputer ECU yang mengatur besar tenaga motor, bukan pengendara. Selain itu, semakin banyaknya teknologi canggih yang dibenamkan pada motor akan semakin sulit diperbaiki bila suatu saat tiba-tiba rusak.

Di Tanah Air, kabarnya Astra Honda Motor (AHM) akan menghadirkan motor baru, yakni Honda CBR250RR yang juga dilengkapi teknologi ride by wire. Menurut informasi, desain motor ini terinspirasi pada Honda Light Weight Super Sports Concept (LWSSC) yang sebelumnya dipamerkan di ajang Tokyo Motor Show pada bulan Oktober 2015 kemarin.

Sebagai gambaran, prototipe Honda LWSSC hadir dengan warna hitam doff. Motor ini mengusung dua lampu sipit, dengan kisi-kisi udara di bawah lampu yang memperkuat kesan agresif. Selain itu desain tangki motor dibuat berotot sehingga senada dengan fairingnya. Garis tegas juga tampak pada bagian jok dan buritan.

Motor ini mengandalkan suspensi depan model up-side down dan suspensi belakang Ohlins. Secara keseluruhan motor konsep ini memiliki desain yang serba tajam dan futuristik.

Dilansir Dapurpacu, Honda CBR250RR ini akan diproduksi di Indonesia dan mulai dijual tahun 2016 ini. Bila Anda ingin mencoba teknologi ride by wire akan tetapi tidak mempunyai cukup uang untuk membeli motor kelas atas dengan harga ratusan juta rupiah, CBR250RR bisa menjadi solusi alternatifnya. Sebab, kabarnya motor ini akan dipasarkan dengan harga Rp 60 jutaan.

Source: cbr 250rr, ride by wire, apa itu ride by wire, teknologi ride by wire, ride by wire adalah, Fitur ride by wire dan mode ride, kenapa mode standard sport sport hanya berteknologi ride by wire, fitur ride by wire, arti ride by wire, sistem ride by wire,